Tulisan Ke-5

 

# 5 Jalan Indah

Kembali ke kisah awal,

Saat aku menjadi siswi akhir KMI ketika sedang bergeloranya untuk mencapai perguruan tinggi impian, terjadilah percakapan dengan orang tuaku tepatnya adalah bapak aku. Ketika itu ibuku mungkin merasa bahwa biaya di perguruan tinggi akan sedikit mencekik ekonomi keluargaku, apalagi perguruan tinggi impianku adalah salah satu perguruan tinggi di Bandung. Ibuku berharap jika aku mendapat beasiswa mungkin akan lebih membantu. Beasiswa kurang mampu mungkin, harap ibuku. Aku paham betul keadaan ekonomi keluargaku, meskipun tergolong mampu mengingat masih memiliki adek yang butuh biaya juga rasanya ini sedikit beban bagi orang tuaku.

Namun tanggapan lain keluar dari bapakku, mungkin bapakku merasa harga dirinya menurun jika putrinya harus mendapat beasiswa miskin karena tidak mampu. Ketika itu bapakku optimis dan merasa masih kuat untuk memeras keringat memenuhi kebutuhan pendidikanku. Bapakku juga tidak ingin putrinya ini berkecil hati karena menjadi anak penerima beasiswa kurang mampu. Meskipun sebenarnya semua akan baik-baik saja. Namun bapakku berharap bahwa, kita harus sama-sama berusaha. Orang tuaku akan berusaha memeras keringat lebih giat untuk memenuhi kebutuhan pendidikanku, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadi mahasiswi yang berprestasi dan mendapat beasiswa. Itu harapan bapakku, beasiswa pendidikan karena prestasi.

Soal beasiswa menguap begitu saja ketika kenyataan pahit menjadi mahasiswi IAIN Ponorogo harus aku telan. Bagiku menjalani perkuliahan di IAIN Ponorogo saja sudah cukup menguras emosi, mana mungkin aku mengejar beasiswa. Hari-hari sebagai mahasiswa baru di IAIN Ponorogo ku jalani tanpa ambisi. Benar-benar tidak ada keinginan atau ambisi yang aku raih. Mau melanjutkan kuliah saja alhamdulillah ujarku dalam hati saat itu. Namun qodarullah Allah beri jalan lain. Benar kata orang bahwa bisa jadi apa yang kita dapat saat ini adalah do’a kita yang lalu.

Aku dipertemukan dengan seorang dosen yang mengarahkanku untuk menjadi salah satu pengurus di pondok. Tawaran itu sempat membuatku bimbang karena beberapa alasan. Dan hati membawaku ke sana. Siapa sangka ini adalah jalan Allah dalam mewujudkan do’a ku dan kedua orang tuaku terdahulu. Akhirnya kudapatkan sesuatu yang dulu ku harapkan, lalu ku abaikan dan kini ada di genggaman tangan. Beasiswa sebagai pengurus. Bukan masalah  nominalnya tetapi perjalan untuk mendapatkannya dapat menjadi pelajaran. Ketika kita ada di titik kepasrahan Allah lah yang mengurus semuanya. Inilah taqwa. Mungkin di luar sana lebih banyak orang yang memiliki kisah hebat untuk menggapai beasiswanya, dan ini kisahku. Sederhana tapi bermakna untukku. Ini lah jalan indah dari Allah untukku yang tak pernah kuduga.

“wa man yattaqillaha yaj’allahu makhrojan wa yarzuqhu min haistu la yahtasib. Waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh, innallaha balighu amrih qad ja’alahullahu likulli syaiin qadra.” QS. At-Talaq 2-3

 

 ini saksi bisu jalan indah yang pernah Allah anugerahkan padaku itu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Ke-2

Tulisan Ke-8

Tulisan Ke-1