Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

Prakata untuk KPM-DR

  Prakata             Puji sykur Alhamdulillah akhirnya saya dapat membuat tulisan ini yang sudah sejak lama saya rencanakan. Saya memang bercita-cita menjadi seorang penulis, mungkin menulis blog bisa menjadi salah satu langkah saya untuk mewujudkan cita-cita. Sempat tertunda lama karena berbagai hal, atas izin Allah kegiatan KPM-DR yang dilaksanakan IAIN Ponorogo memberi saya kesempatan untuk mewujudkan tulisan ini. <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5485429378064033"      crossorigin="anonymous"></script>             Tulisan ini akan menjadi salah satu program KPM-DR yang saya lakukan selama di rumah. Berdiam diri di rumah membuat saya berpikir bagaimana cara produktif tanpa harus meninggalkan rumah, maka menulis yang juga hobby ini saya salurkan sebagai kegiatan KPM-DR. ...

Tulisan Ke-1

Gambar
  # 1 Jatuh Cinta             Lebih tepatnya jatuh cinta karena terpaksa. Jauh hari sebelum dinyatakan sebagai mahasiswa IAIN Ponorogo, otak ini selalu berangan-angan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar kota. Bisa melanjutkan dari sekolah sebelumnya atau di manapun itu yang terpenting bukan di Ponorogo, begitu kata yang selalu keluar dari mulutku ketika ditanya perihal pendidikan tinggi. Hati dan pikiran begitu sepakat untuk menghindari pendidikan tinggi di Ponorogo, entah apa sebabnya. Dan alhamdulillah keluarga tidak pernah menentangku akan hal itu. Jadi aku pikir sudah mendapat restu untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar kota. Bahkan sedikitpun tak pernah tersebesit untuk menjadi mahasiswi IAIN Ponorogo.             Aku dinyatakan sebagai alumnus dari salah satu pesantren di Jawa Timur, senang alhamdulillah. Dan ini lah perjuangan berat di mulai dengan ...

Tulisan Ke-2

  # 2 Aku Rapopo             Akhir cerita, eh belum akhir deh....             Alkhisah aku terdaftar sebagai salah satu mahasiswi jurusan PAI di IAIN Ponorogo. Aku masuk angkatan 2017, kenyataan yang agak pahit mengingat teman-teman seangkatanku adalah adek kelasku. Rata-rata mereka memiliki usia di bawahku. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa cepat atau lambat akan disematkan penggilan “Mbak” sebelum namaku. Sempat menutupi kenyataan bahwa aku lebih tua diatas rata-rata mereka, mengingat sejak dari TK sampek SMA aku selalu menjadi “adek” dan tiba-tiba menjadi “kakak” menjadi sesuatu yang berat untukku. Aku harus berusaha keras menempatkan diri sebagai teman tapi lebih tua. Jelas “lebih tua” ini menuntukku untuk mampu bersikap lebih dewasa kepada mereka, selalu berusaha meski sulit atau bahkan gagal.          ...