Tulisan Ke-1
# 1 Jatuh Cinta
Lebih tepatnya jatuh cinta
karena terpaksa. Jauh hari sebelum dinyatakan sebagai mahasiswa IAIN Ponorogo,
otak ini selalu berangan-angan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar
kota. Bisa melanjutkan dari sekolah sebelumnya atau di manapun itu yang
terpenting bukan di Ponorogo, begitu kata yang selalu keluar dari mulutku ketika
ditanya perihal pendidikan tinggi. Hati dan pikiran begitu sepakat untuk
menghindari pendidikan tinggi di Ponorogo, entah apa sebabnya. Dan
alhamdulillah keluarga tidak pernah menentangku akan hal itu. Jadi aku pikir
sudah mendapat restu untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar kota. Bahkan
sedikitpun tak pernah tersebesit untuk menjadi mahasiswi IAIN Ponorogo.
Aku dinyatakan sebagai
alumnus dari salah satu pesantren di Jawa Timur, senang alhamdulillah. Dan ini
lah perjuangan berat di mulai dengan kepputusan yang tak pernah kuduga. Satu
tahun pengabdian wajib aku selesaikan sebagai mahasiswi, membulatkan tekat
untuk menyelesaikan kuliah dengan status mengabdi. Dengan begitu jelas sudah
pilihanku bahwa aku tidak mengenyam pendidikan tinggi di Ponorogo. Dua semester
berlalu dengan begitu baik, lancar dan cukup menyenangkan. Selesainya dua
semester menjadi tanda bebasnya aku dari beban pengabdian wajib.
Niat untuk menyelesaikan
strata 1 di luar kota ternyata tidak direstui oleh Allah. Hati semakin tidak
nyaman berada di tempat yang sudah hampir
7 tahun aku menempatinya. Otakku berusaha keras meyakinkan hatiku bahwa
aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku pilih. Namun hati dan otak adalah
ciptaan, Sang Pencipta sepertinya tidak berkehendak aku melanjutkannya, wallahu
a’lam karena satu dua hal yang terjadi di luar kehendakku dan InsyaAllah itu
kehendak Allah akhirnya aku meninggalkan tempatku.
Sempat kecewa dan tak tau
harus bagaimana. Beberapa bulan berdiam diri dan menata hati. Meminta petunjuk
dari Sang Pencipta dan meneguhkan diri untuk kembali melangkah. Dan
alhamdulillah Qadarullah Allah mendekatkanku dengan teman-teman yang berkuliah
di IAIN Ponorogo. Mereka mendukungku, menguatkanku dan sedikit promosi tentang
IAIN Ponorogo. Mereka berkata bahwa IAIN Ponorogo akan menerimaku dengan tangan
terbuka.
Ternyata aku tidak
langsung bisa menerima. Aku masih berkeras hati menolah kenyataan bahwa aku
harus melanjutkan pendidikan tinggi di Ponorogo, apalagi di IAIN Ponorogo yang
tidak pernah masuk dalam daftar keinginanku. Setelah perenungan dan
pertimbangan banyak hal, akhirnya aku menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan
pendidikan di Jurusan PAI IAIN Ponorogo.
Aku tau, di luar sana
banyak yang memiliki akhir kisah yang sama denganku. Hanya mungkin jalan
kisahnya berbeda. Dan MasyaAllah aku banyak menemukan teman yang tak pernah
menjadikan IAIN Ponorogo sebagai pilihannya tapi membesarkan hati untuk
menerimanya.
“Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216).
Pada akhirnya aku
benar-benar mengerti maksud dari ayat Al-Qur’an tersebut, setelah bertahun
tahun mengetahuinya secara tekstual, akhirnya dengan ini aku dapat memahaminya
secara kontekstual. Nyata dalam hidupku. Kita hanya hamba, kita hanya
ciptaan, kita hanya wayang, mana mungkin pengetahuan kita melebihi Sang Maha
Mengetahui, itu tidak mungkin. Dengan ketidak tahuan kita, rasanya selalu
memohon petunjuk yang terbaik itu yang dapat kita lakukan. Setelah segala upaya
kita lakukan, ingatlah masih ada banyak hal yang tidak bisa kita upayakan,
pasrahlah pada kehendak Allah dan jatuh cintalah pada apa yang Allah tetapkan.
Sungguh ketetapan Allah tidak pernah buruk.
Dan hari-hariku di IAIN Ponorogo di mulai. Aku
bertemu dengan banyak mahasiswi yang memiliki akhir kisah yang sama. Dan aku
tersenyum , ternyata aku tidak sendiri. Bahkan saat ini aku bersama mereka,
duduk bersama di tempat yang sama, IAIN Ponorogo. Saling bertukat cerita,
membagi duka, dan berjuang bersama.
Dan inilah aku mahasiswi PAI IAIN Ponorogo
Halo mbak, salam kenal saya juga dari IAIN ponorogo (sepertinya kita satu angkatan) ,hehe
BalasHapus