Tulisan Ke-3
# 3 Matahari Bersinar Terang
Jadi kegiatan PBAK ini mengharuskanku untuk bangun dan
pergi ke kampus sesegera mungkin, mungkin harus balapan dengan matahari terbit.
Pagi buta mandi persiapan diri dengan peraturan yang sudah ditentukan, warna
pakaian, jenis pakaian, warna jilbab serta beberapa barang yang harus dibawa.
Ternyata kesibukan mahasiswa baru mengikuti PBAK tidak
hanya membuat sibuk diriku, tetapi juga keluargaku. Terutama ibuku. Suatu hari
diberilah kami intruksi untuk membawa bekal sarapan esok pagi dengan clue “Matahari
Bersinar”. Usut punya usut maksudnya adalah kita diharuskan membawa bekal Nasi
Goreng dengan Telur Mata Sapi di atasnya.
Bahagianya aku ketika itu, tapi sayang aku lupa tanggal
pastinya kapan. Ketika Matahari benar-benar bersinar terang menerangi seluruh
mahasiswa FATIK yang berjejer rapi di depan Graha Watoe Dakon. Antusias,
bersemangat dan kelaparan kami bersiap 45 untuk membuka bekal yang kami bawa.
Hatiku bahagia bukan main ketika diintruksikan untuk membuka bekal
masing-masing karena jujur saja makluk perutku sudah menanti saat ini setelah
dari pagi buta menguras tenaga.
Kusapukan tatapan mataku pada sekelilingku, beberapa
mereka telah siap dengan bekal nasi goreng di tangannya, ada juga yang sedang
sibuk mencari agen nasi gorengnya. Mungkin dia anak rantau yang jauh dari orang
tau. Dari situ dengan penuh rasa syukur ku keluarkan bekalku dari tas
punggungku. Warna oren wadah bekalku membuatku semakin bersuka ria mebukanya,
warna oren favoritku. Masih dengan bekal di tangan, sekelilingku masih terus
menarik perhatianku dan melupakan keinginan perut yang ingin segera diisi.
MasyaAllah ku lihat sekelilingku, tiada yang lebih indah dari nasi goreng yang
disiapkan ibuku untukku. Saat ku buka warna indah nasi goreng masih pekat,
seakan telur matasapi yang melambangkan matahari bersinar seakan tersenyum
padaku. Bulat sempurna dengan kuning telur indah di tengahnya. Tak lupa sendok
dan garpu. Aku selalu makan dengan sendok dan garpu atau tidak menggunakan
keduanya, atau tidak menggunakan hanya satu saja.
Masih jelas dalam ingatanku ketika kakak pembimbing
berkeliling dan mengecek setiap peserta PBAK yang sedang menikmati makananya.
Ia memuji karya ibuku itu. Dan aku sungguh bersyukur. Bahwa ketika beberapa
teman berjuang sendirian, menyiapkan bekalnya sendiri, memesan bekal dari orang
lain, atau membeli nasi goreng di malam hari untuk jadi bekal pagi dan ternyata
tidak bisa dimakan karena basi, aku sungguh bersyukur sampai detik ini ibuku
selalu mendampinginku. Menjadi tim sukses untuk semua yang aku lakukan. Menjadi
support system yang tidak pernah eror. Menjadi garda terdepan untuk
seluruh keluh kesahku. Benar kata film bahwa “Harta yang paling berharga adalah
Keluarga”.
Ketika semua terasa sulit, berat, pahit ingatlah satu hal
bahwa masih banyak orang di sekelilingmu dan kamu tidak pernah sendrian. Bisa
jadi sekelilingmu adalah orang yang tidak seberuntung dirimu, bisa jadi
seselilingmu adalah support system yang kuat seperti ibuku, bisa jadi
pula orang disekelilingmu merasakan kesulitan yang sama denganmu. Pesanku
jangan pernah merasa sediri, jika beberapa hal itu belum kamu temukan, mari
renungkan kembali. Kamu tidak pernah sendiri. Sungguh Allah selalu bersamamu,
kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun.
Kehadiran Allah, kedua orang tuaku, keluargaku,
teman-temanku dan semua orang yang pernah mengenal diriku sungguh
mengharuskanku untuk selalu bersyukur lebih dan lebih lagi.
QS. Ibrahim : 7
“Dan ingatlah tat kala Tuhanmu memaklumkan, Sesunggunya jika kamu
bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari,
sungguh azabku amat pedih.”
Ini tempat nasi yang aku pakai buat nyimpen menu “Matahari Bersinar” ku
waktu PBAK men-temen
Komentar
Posting Komentar